Kutipan Novel 1
Sepeninggalnya, aku duduk lama memandangi pintu. Benarkah yang barusan kulakukan, atau justru keliru? Salahkah aku bila ia sampai tersinggung? Dan untuk apa sebenarnya dulu ia kuundang ke rumah ini? Ya, aku mengakuinya: aku ingin ia tunduk. Aku ingin menundukkan lelaki berharta yang angkuh dan gemar memandang rendah orang lain itu. Entah untuk membela sahabatku, Tining, entah sekadar memuaskan hatiku sendiri.
Kutipan Novel 2
Tiba-tiba, bagai kilat yang membelah langit malam, sebuah pikiran menyambar terang di dada Hasan — seolah cahaya yang amat benderang merobek kabut pekat yang selama ini mengungkung jiwanya. Belum pernah kepalanya seterang ini. Maka berpikirlah ia, “Ayah kini sudah tiada. Tetapi aku, Ibu, dan Fatimah masih hidup. Kalau benar Tuhan hanya khayalan manusia seperti kata Rusli dan Anwar ....”
Perbedaan karakteristik kedua kutipan novel tersebut adalah ...